Lho, kok, bisa?
Iya, dong. Kalau pacaran, kan, bisa senang-senang saja, diambil manis-manisnya saja. Kalau nanti sudah asam, apalagi pahit, tinggal putus saja. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Tebu, dong!
Hubungan macam apa itu? Seenaknya saja putus nyambung putus nyambung (jadi kayak lagu). Itu mempermainkan perasaan orang lain. Jahat tahu! Bikin orang lain sakit hati. Belum lagi yang suka gonta-ganti pacar. Astagfirullah ….
Berbeda dengan pernikahan yang disertai tanggung jawab. Ketika
mengarungi bahtera rumah tangga, mereka merasakan kebahagiaan bersama.
Lalu, ketika timbul masalah, mereka akan menghadapinya bersama pula.
Ibarat kata, susah senang ditanggung bersama.Iya, dong. Kalau pacaran, kan, bisa senang-senang saja, diambil manis-manisnya saja. Kalau nanti sudah asam, apalagi pahit, tinggal putus saja. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Tebu, dong!
Hubungan macam apa itu? Seenaknya saja putus nyambung putus nyambung (jadi kayak lagu). Itu mempermainkan perasaan orang lain. Jahat tahu! Bikin orang lain sakit hati. Belum lagi yang suka gonta-ganti pacar. Astagfirullah ….
Ketika menikah, pasangan melakukan perjanjian yang agung dengan Allah Swt. Tidak sekadar nembak seperti orang pacaran. Jadi, menikah itu menuntut tanggung jawab yang besar. Orang yang tidak mau menikah dan hanya mau pacaran, berarti dia pengecut.
Mungkin ada yang beranggapan begini, “Kami mau melakukan penjajakan dulu. Nanti dululah menikah. Kenapa harus buru-buru? Agresif banget, sih. Jadi orang yang sabar, dong.”
Eits, tunggu dulu! Nggak salah tuh? Justru orang yang berpacaran itu yang agresif dan tidak sabaran. Sampai-sampai, tidak bisa mengendalikan nafsunya sendiri. Buktinya, belum berani menikah, kok, mau pegang-pegang anak orang? Kelihatan, kan, nafsunya lebih gede ketimbang otaknya?
Lagi pula, mungkin saja pasangan yang berpacaran itu merasa bahwa mereka sedang berusaha saling memahami. Tapi, yang terjadi sebenarnya tidaklah demikian. Kenyataannya, orang yang pacaran itu berusaha tampil lebih baik dari yang sebenarnya. Memang tidak ada salahnya memperbaiki diri, malah bagus itu. Tapi, kalau kita lantas menjadi sosok yang bukan diri kita, itu berarti kita sedang membohongi diri kita sendiri. Konyol, kan?
Yang lebih parah adalah ketika terjadi pergeseran orientasi dalam setiap perbuatan dan aktivitas kita. Kita jadi rajin shalat, puasa, pemberani, tekun belajar, giat bekerja, dan lain-lain bukan karena Allah lagi, melainkan karena si dia. Nah, lho? Kalau semua karena si dia dan untuk si dia, lantas yang kita simpan buat bekal di akhirat apa, dong?
Idealnya, kita berusaha menjadi manusia yang senantiasa memperbaiki diri, baik itu ada si dia maupun tidak. Seluruh perbuatan kita semestinya hanya karena Allah Swt. Tapi, selama kita masih pacaran, kayaknya hampir mustahil untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya.
Teman, ketika seseorang berpacaran, yang tampak adalah yang indah-indah dan baik-baik saja. Setelah menikah, baru kelihatan sisi negatif pasangannya. Jadinya, kecewa. Berbeda dengan pasangan yang menikah tanpa pacaran, mereka akan tampil apa adanya. Sisi positif dan negatif akan tampak secara lebih obyektif.
Maap klo kepanjangan hehee..