Monday, April 23, 2012

Syuro ala Aktivis Kampus

Muhammad Sholich Mubarok
Syiar Humas Badaris BSI Jakarta


“Pada ngapain sih itu, Mas? orang di Mushola kok ngintip-ngintip di tempat cewek lewat bawah?” tanya seorang mahasiswa pada mahasiswa lain, usai dirikan sholat. “Tanya saja sama orangya langsung, mas,” jawabnya.
“Nggak enak mas. Ntar Ganggu lagi malahan,”
“Daripada salah ntar,”
Tak lama datang Mahasiswa lain.....
“Mas, tahu nggak? tuh pada ngapain sih?”
“Itu anak-anak yang suka dakwah di kampus”
“Kok begitu cara komunikasinya,beda sama saya dulu waktu di pesantren,”
“Wah.....kalau itu aku nggak tahu. Memang begitu kali caranya,”
“Ya kalau gitu mah percuma,sama saja. Toh turun dari mushola mereka juga bertatap muka ngobrol bareng bercanda. Aku dulu di pesantren rapat ya jadi satu tanpa ada penghalang kayak gitu. Ntar malah banyak yang ngomong aneh-aneh. Kan pemikiran orang juga beda-beda mas.Tuh, temen saya banyak yang tanya ‘Pada sok alim dah, Rapat aja ditutup pemisah,Nyampe luar juga dah kagak lagi. Iya bener tuh, kadang yang cowok......eh yang ikhwan ding, juga sering ngobrol tatap muka sama gue, Dasar.’ Kaya gitu mas temen-temen saya kadang tanya.”
“Heh.....Ceramahnya jangan sama aku. Sama mereka aja!”
Demikianlah dialog antara tiga mahasiswa. Mendengar bisik-bisik tetangga—kalau tak mau disebut gosip--seperti itu pasti memuakkan bagi para penggiat dakwah kampus. Gregetan. Pingin langsung di wing chun. Namun lumrah, hal yang klasik, kenapa? Penggiat dakwah sudah sangat terbiasa dengan cercaan, karena meyakini dakwah itu tak mudah. Lha wong Muhammad SAW yang ahlaknya mulia saja pernah diludahi, apalagi pengikutnya yang jauh dari mulia.

Sekali lagi, tugas menyampaikan kebaikan memang tak mudah. Selalu saja aral yang menghadang. Baik halangan dari eksternal maupun halangan dari internal. Nah, halangan eksternal seperti diatas menjadi kesempatan gurih untuk membenahi internal dalam hal ini syuro dan ‘insiden mengintip’. Syuro atau rapat memang agenda yang sangat krusial bagi aktifis dakwah untuk mendiskusikan program agar program dakwah yang bertujuan untuk perbaikan umat (kampus) bisa berjalan dengan baik dan lancar jaya. Syuro kadang dilakukan terus menerus karena tak mencapai keputusan tepat hingga tak jarang ada gelar untuk mereka sebagai Mansyur (Manusia syuro).

Agar syuro berjalan dengan baik perlu ada tata tertibnya, salah satunya dengan hijab yang membentang diantara ikhwan dan akhwat. Tapi, sudah ada hijabnya kok masih ngintip, lalu buat apa ada hijab?

“Pakai hijab saja masih nggak bisa jaga pandangan, masih melantur omongannya apalagi tak pakai hijab” begitu komentar seorang sahabat pada penulis.

Menjaga pandangan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah namun juga hal yang sulit karena fitrah laki-laki tertarik dengan perempuan dan demikian pula sebaliknya.

Coba bayangkan bila syuro dengan posisi berhadap-hadapan? Tentu sangatlah rentan akan timbulnya ikhtilath(bercampur baur).

Penulis jadi teringat dulu ketika di pesantren, syuro heterogen antara santriwan dan santriwati sangat dijaga dengan baik dengan adanya hijab yang hampir tanpa celah. Sangat salah bila menuding sistem syuro di pesantren itu sangat terbuka tanpa adanya hijab. Kalaupun ada pesantren seperti itu, penulis yakin ada penerapan paham liberal di sana.

Ah, tak perlu jaga pandangan (gadhul bashar), yang penting kan jaga hati? Benarkah?

Padahal, Allah SWT telah ingatkan, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS.24: 30)

Perlu diketahui, bila kita memandang sesuatu atau seseorang, maka aka nada pesan yang dibawa sel syaraf menuju otak. Kalau pandangan itu terkait seksualitas, maka otak akan memproses pesan tersebut dan meneruskannya ke hipotalamus. Ya, hipotalamus, bagian otak yang berisi sejumlah nukleus kecil dengan berbagai fungsi. Yang kemudian akan mensekresi Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) yang menyebabkan hipofisis, mensekresi hormone gonadotropin yang merangsang organ-organ seksual untuk mengeluarkan hormon seksualnya. Simpelnya, dari mata turun ke hati dan akan terputar dikala sendirian.

Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”

Perihal mengintip dalam syuro, apapun alasannya tak dibenarkan. Ini bahan koreksi yang tepat buat pe-syuro. Jika alasannya untuk mencoret-coret bahan syuro hingga harus memperlihatkan ke akhwat sepertinya perlu diadakan papan tulis. Meski kita tahu bahwa faktanya hanya tangan yang menyodorkan catatan atau memberikan penjelasan, orang-orang yang melihat tidak mau ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah penggiat dakwah mengintip, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik.

Bagaimanapun dakwah harus berlanjut meski ada yang caci maki, meski ada mengatakan sok alim. Lebih baik dikatakan sok alim daripada sok zalim.

Paling tidak, para aktifis dakwah kampus punya nilai lebih di hadapan Allah karena ada upaya perbaiki diri dan menyebarkan kebaikan. Alangkah sangat egois, kalau tahu agama bahkan berbasis pesantren tapi tak sebarkan kebaikan. Malah yang ada sebarkan fitnah bukan cari cara tabayyun.
Dakwah kampus harus berlanjut sekalipun hadapi mahasiswa yang bertipikal tong kosong yang norak bunyinya. 


sumber : http://suara-islam.com/read4423-Syuro-ala-Aktivis-Kampus.html

Anonymous

About Anonymous

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :