dakwatuna.com – Bagi sebagian mahasiswa muslim tentu
sudah sewajarnya untuk melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah
SWT ini. Namun bagaimana jika mereka tidak mengerjakan kewajiban itu?
Mahasiswa
bukan lagi anak kecil yang harus disuruh-suruh untuk shalat, mahasiswa
juga bukan, orang tua renta yang tidak bisa melakukan apa-apa, namun
sebagian mahasiswa adalah pemuda pemudi yang sudah baligh dan bisa hidup
mandiri.
Jika waktu kecil disuruh orang tua untuk shalat jika
tidak akan dihukum, namun sekarang tidak lagi, mahasiswa sudah bisa
berpikir sendiri untuk hidup dan melakukan apapun terlebih shalat.
Mereka tidak lagi disuruh-suruh untuk itu.
Shalat bukanlah
perintah orang tua, guru bahkan dosen, namun ibadah ini adalah perintah
dari Allah SWT. Bayak firman-Nya yang menyerukan untuk shalat seperti
pada surat Al Baqarah ayat 43 “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.”
Namun
banyak sekali mahasiswa yang masih meninggalkan shalat, entah lupa,
banyak tugas atau kecapean, padahal jelas-jelas ini merupakan perintah
dari Sang Khaliq. Jadi lupa, banyak tugas, capek dll bukanlah alasan
untuk tidak shalat.
Banyak orang yang tidak bisa berdiri,
jalan,dll namun mereka tetap melaksanakan shalat. Kenapa mereka bisa
melakukan itu ? Karena mereka sadar bahwa itu adalah perintah dan juga
akan mendapatkan pahala.
Bagaimana bisa banyak dari mahasiswa yang
diberikan organ tubuh yang lengkap, otak untuk berpikir namun malah
meninggalkan shalat? Miris melihat semua ini.
Padahal yang shalat
saja masih bisa celaka bagaimana yang tidak shalat? Allah berfirman
dalam surat Al Maun ayat 4 dan 5 “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang
yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” Maka
shalatlah di awal waktu agar kita tidak celaka nantinya .
Saya
sebagai mahasiswa juga merasakan hal yang sama ketika ingin melaksanakan
shalat seperti, malas, capek, banyak tugas namun itu semua harus
dibuang jauh-jauh agar kita tetap pada pendirian untuk melaksanakan
kewajiban itu.
Dari sebagian alasan itu yang tidak kalah
pengaruhnya adalah faktor lingkungan. Ya faktor ini begitu sentral dalam
pembentukan moral dan akhlak mahasiswa, lingkungan yang tidak baik
pasti akan membawa dampak buruk.
Ketika ngumpul dengan teman
kampus rasanya nikmat bisa tertawa, makan-makan hingga berbuat hal yang
tidak sepatutnya dilakukan. Namun inilah juga berdampak buruk karena
dengan kesenangan-kesenangan itu kita lupa akan yang namanya shalat.
Sungguh
hal yang memalukan di kalangan mahasiswa zaman sekarang ini mereka
hanya mementingkan duniawi tidak untuk akhirat. Seakan akhirat tidak ada
gunanya, malah di dunia ini hanya sementara yang kekal justru di
akhirat.
Masih ada harapan untuk para mahasiswa berubah kuncinya
adalah diri sendiri, karena mahasiswa adalah maha dan siswa, bukan masih
siswa. Mereka punya otak untuk berpikir dan memilih sendiri mana yang
baik dan buruk tidak lagi dituntun untuk melakukan hal yang baik.
Kesadaran untuk melakukan yang baik dan takut akan azab Tuhan Yang Maha Esa itu yang paling penting.
