Sunday, October 11, 2015

    Open House

    OPEN HOUSE BADARIS BSI BEKASI.

    Terancang dan tersusun. Sedemikian baik dan maximal. Segala harapan muncul, segala doa terangkat mengadah kelangit. Meminta agar satu acara ini akan menjadi sebuah legenda untuk kita buka nanti saat kaki telah berada di garis finish.

    Waktu istirahat terganggu untuk merancang segalanya. Mempersiapkan dan terus menanyakan akan kedatangan keluarga yang kita nantikan.

    "Ahlan Waa Sahlan Mahasiswa Baru yang telah memilih Badaris sebagai organisasi yang akan kalian geluti"

    Satu persatu pesan rindu kami kirim, menanyakan tentang sebuah pertemuan yang telah kita rencanakan.
    Semula semua berkata "iya". Namun Allah memiliki rencana lain dengan menghadirkan kata "tidak".

    Satu, dua. Mereka datang dengan senyum yang begitu menghangatkan penantian. Pintu terus saja terbuka, menanti siapapun itu akan datang kembali. Membuka tangan untuk menyambut dan merangkul kedalam ukhuwah keikhlasan.

    Hingga detik terus berlalu, namun yang kita tunggu tetap saja menjadi bayang semu. Namun, dari jauh ku lihat satu persatu datang dan memasuki ruangan. Duduk dan memenuhi ruang hangat sederhana yang Allah ciptakan untuk kami.

    Perkenalkan, mereka adalah pasukan yang Allah kirim untuk memecahkan kesedihan. Untuk menghangatkan sebuah rasa kehilangan. Mereka adalah orang-orang sebelum kami yang sama-sama pernah berjuang dan mampu melewati setiap rintangan.

    Tawa, cerita semua terurai pada hari itu. Saling memberi semangat dan motivasi untuk kembali bangkit menjadi yang terbaik atau lebih baik lagi.
    Mereka menguatkan salah satu yang mulai melemah, menawarkan banyak bantuan untuk terus tetap tegak dijalan ini.

    Ya, pada hari itu kami meyakini akan satu hal. Bahwa rencana Allah jauh lebih baik dari segala-galanya. Selalu ada hikmah yang tersembunyi, selalu ada hadiah istimewa yang akan diperlihatkan untuk mereka yang terus berjuang.

    Semangat apapun itu kami ucapkan kedalam diri. Untuk tidak mundur walau hanya satu langkah. Untuk tak menjadikan alasan apapun masuk menumbuhkan rasa tak percaya diri.

    Hingga pada akhirnya acara berakhir, satu persatu meninggalkan ruangan dan kembali kedalam kehidupan masing-masing.
    Ruangan kembali kosong dan gelap, seakan sunyi kembali mengetuk. Namun dengarlah, kata-kata mereka tetap tertinggal dalam lintasan memori. Terngiang dan terus terdengar "SEMANGAT, KALIAN BISA".

    Ayo bangkit, hidupkan apa yang mati. Segarkan apa yang layu. Siram semuanya dengan harapan-harapan baik. Rangkul kembali yang jauh. Pererat kembali yang dekat. Dan jangan khawatir, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.

    Acara pun telah berlalu, semoga hari itu akan menjadi evaluasi terbaik untuk kami. Dan kembali focus pada rencana-rencana selanjutnya.

    Ada yang berkata "perjalanan kalian masih panjang". Maka, kita percayai ini sebagai waktu yang Allah beri untuk terus memberikan yang terbaik.

    Untuk segalanya yang telah memenuhi ruangan pada hari ini.

    "Jazakallah Khairan Katsiran, semoga hamparan sajadah ini akan menjadi saksi di akhirat kelak. Bahwa kita sama-sama pernah berjuang memikirkan dan memberikan upaya perubahan"

    "Untuk waktu yang kalian sisihkan khusus kepada kami, semoga menjadi saksi kelak saat persidangan kehidupan dimulai"

    Salam teruntuk semua yang kami cinta. Salam teruntuk semua yang kami rindu. Alhamdulillah, kata yang kami ucapkan untuk hari itu.

    Sunday, March 8, 2015

    Bangkit Dari Keterpurukan

    Milis DT - Siapapun pasti pernah mengalami rasa terpuruk. Tersungkur. Jatuh.Habis-habisan. Merasa sulit untuk bangkit lagi. Cobaan mendera-dera tak berkesudahan. Bumi dan langit semakin sempit. Derai air mata tak sanggup menahan kegundahan, sakit tak terkatakan.

    Jangan bersedih ! Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Seperti yang Allah wahyukan, pengobat hati yang gundah untuk orang-orang beriman adalah Qur'an-Nya. Maka dengarkanlah ayat-ayatnya dan renungkanlah maknanya. Dengarkanlah, Allah menghibur hamba-hamba-Nya dengan hikmah peristiwa yang menimpa para manusia pilihan-Nya.

    Ingatlah ketika Rasulullah berdakwah di Thaif agar mereka bertakwa pada Allah sang Pencipta. Bukan ucapan terima kasih yang beliau terima, justru cacian dan cercaan yang diberikan penduduknya.Mereka berani mengusir Rasul mulia itu dengan lemparan batu.Sakit tentu hati beliau. Sedih sudah pasti. Apalagi orang-orang yang dicintai dan membela, Khadijah dan Abu Thalib sudah meninggalkannya. Tapi Rasulullah malah berdoa kelak keturunan penduduk Thaif adalah orang-orang yang bertakwa pada Allah. Buah kesabaran beliau adalah kemenangan dan kejayaan Islam.

    Kesedihan bagaimanapun akan selalu menjadi bagian dari diri kita. Tapi apa kita harus terus menerus berada dalam kondisi tidak berdaya? Tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut? Sadarlah, kesedihan itu tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi. Kesedihan adalah hal yang manusiawi. Tapi bangkit lagi adalah upaya seorang pahlawan.

    Sungguh tak ada yang bisa merubah kesedihan dan keterpurukan selain kita sendiri.

    Bangkitlah. Mulailah hari baru. Tatap matahari esok dengan segala optimisme. Ketahuilah, kesedihan ini akan berlalu seiring waktu. Tapi waktu tidak akan menunggu kita bila kita diam terpekur tak berbuat sesuatu. Bangkitlah, untuk sebuah perubahan yang lebih baik.Hidup yang lebih baik dari hari ini. Jangan kita ditinggal oleh orang-orang yang berlari mengejar masa depannya. Meninggalkan kita dalam lubang keterpurukan yang secara sadar telah kita gali sendiri.

    Monday, March 2, 2015

    Tapak Tilas Sebuah Pertemuan

    Jangan ditanya sejak kapan mulai mengaguminya, karena yang ditanyapun tak tau jawabannya, yang jelas rasa itu selalu ada bahkan semakin bertambah kadarnya..^_^V

    Kita bisa men’FIND’,confirm lalu mengenal teman dan sahabat menggunakan jemari-jemari kita dengan jasa jejaring sosial media yang mendunia. Bahkan zaman sekarang bukan lagi tulisan yang bisa menjadi perantara antara kita yang terpisah jarak antar desa, kota, negara atau bahkan tetangga… tapi ‘video call’ membuat kita bisa menatap, berbica lalu melihat senyum merekah pada paras rupa sahabat kita. Yups, semua sangat mudah sekarang sahabat...

    Namun, pertemuan tetap yang paling mengesankan. Terkadang Dia mengatur pertemuan kita dengan skenario terbaik milikNya. Dan dengan episode-episodeNya, ada yang tidak sengaja dipertemukan karena hobi sama, karena terlibat dalam kegiatan yang sama atau ketika tidak sengaja hadir dalam seminar sama, bisa juga saat sedang dalam angkutan umum bahkan mungkin juga saat tanpa sengaja kita merasa ‘sreg’ dengan orang dan mulai melakukan serangan ( bukan angkatan perang lho) untuk ‘pedekate’ biar bisa jadi sahabatnya. Dan saling menyapa dalam nyata itu mempesona. Dimana kita bisa bercerita dengan ceria dan langsung melihat reaksi dari lawan bicara kita bukan ruang kosong saat kita mendapati sebongkah mesinlah patner kita. Membuat kita dengan bebas berjalan beriringan dengan sahabat kita, merasakan lelah bersama dalam perjalanan bukan sekedar perjalanan dengan tatapan layar bahkan sampai lupa arah tujuan alias nyasar (hehehe...).
    Sebuah pertemuan yang akhirnya membuahkan persaudaraan…
    Pertemuan antara kita yang tak pernah diduga.. pun bukan sebuah orderan… namun persaudaraan setelah pertemuan inilah yang menjadi orderan padaMU ya Rabb
    Karena sejatinya persaudaraan adalah mu’jizat, wadah yang saling berikatan...dengannya Allah persatukan hati-hati yang berserakkan..
    Terlebih ketika ramuan fii sabilillah membumbui persaudaraan ini..semua menjadi indah keranaNYA

    Sepasang sepatu kita, sesekali kita perlu mempertemukannya. Untuk kita menapaki sedikit jalanan, untuk kita sedikit meluangkan masa menyapa dalam nyata, untuk kita bisa bicara dengan saling memperlihatkan ekspresi muka,untuk kita bisa saling  memperlihatkan senyuman terbaik  dan salam hangat untuk sahabat.

    Teman dan sabahat tidak pernah hilang, mungkin kita yang mengikat dan menjaganya kurang kencang. Teman dan sahabat tidak pernah hanya datang saat senang saja lalu mengambil langkah seribu saat kita bersimbah duka dan bukan untuk datang menyerbu untuk membantu tapi untuk menjauh ( ^_^v hehehe sedikit kejam dan sadis), mungkin hanya kita yang masih mencari sahabat yang MEMBERI bukan sahabat yang DIBERI sehingga masih merasa ‘sempit’ menemukan sahabat yang bersaudara.
    Juga.. teman dan sahabat tidak pernah berkhianat, bisa jadi kita yang perlu bebenah diri lagi dan perlu belajar untuk mema’afkan,..pertama dulu mema’afkan diri sendiri agar dengan mudah juga mema’afkan kesalahan yang lain.

    Persaudaraan tak mengenal kesudahaan..
    Cinta dalam pacaran  bisa tercipta mantan,,namun tidak untuk persaudaraan..karena dulu… sekarang dan yang akan datang tak kan pernah ada yang namanya mantan saudara.. ^_^V


     ^_^v .... ma’afkan atas kesalahan, semoga bisa berjumpa dengan yang belum pernah sama sekali memepertemukan sepasang sepatu kita, sahabat…

    #untukmu_keluarga_kecilku

    #alvara_nafiisah stay khusnudzon wa laa tahzan ^__^V

    Tuesday, February 17, 2015

    Apakah Anda Sadar?


    Milis DT - Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu kedepan, pandanglah masa depan kita.

    Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.

    Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

    Kita lahir dengan 2 mata, 2 telinga tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

    Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.

    Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.

    Thursday, February 12, 2015

    Pertolongan DIA


    KotaSantri.com - Warna merah jingga mulai muncul di ufuk Timur. Aku beranjak dari dekapan selimut dan setengah berlari ke kamar mandi. Hampir saja aku tertinggal shalat Subuh. Mungkin terlalu lelah karena perjalanan kemarin. Atau karena perbedaan waktu antara di sini dengan di tanah air.

    Kemarin, aku tiba di Sydney. Di bandara, Anton, sepupuku, menjemput dengan mobilnya, kemudian menuju Goald Coast. Gold Coast adalah sebuah kota pantai di negara bagian Queensland, Australia. Kota ini lebih cocok menjadi tempat berlibur daripada tempat untuk menuntut ilmu. Tapi entah mengapa, Papa berkeras mengirimku ke sini.

    Aku tidak terlalu berminat untuk mengambil Master di bidang Hukum. Posisiku sudah cukup baik di pekerjaan, walau dengan mengandalkan ijazah S1. Dengan pendapatanku, aku sanggup untuk mencukupi seluruh kebutuhanku, tanpa ada lagi subsidi dari orang tua. Bahkan, aku sanggup untuk menafkahi seorang istri. Istri.....??? Ah....! Daripada kuliah lagi, sebenarnya aku lebih memilih untuk menikah. Aku sempat mengutarakan niat itu kepada Papa dan Mama.

    "Rio, kamu itu laki-laki. Untuk apa kamu kawin cepat-cepat?" tukas Papa. "Mumpung masih muda kamu ambil Master. Itu lebih penting untuk masa depan kamu. Jaman sekarang nggak cukup ijazah sarjana. Nggak laku! Kita ini harus punya nilai lebih dibanding orang lain."

    "Kamu juga harus ingat Rio. Mbak-mbak kamu belum ada yang nikah. Apa kamu tega melangkahi Mbak Risa dan Mbak Rosi? Mama ikut menimpali.

    "Memangnya kamu mau nikah sama siapa? Eh, kamu ini pacaran sama siapa sih? Papa kok nggak pernah lihat kamu gandeng perempuan? Cerita dong sama Papa Mama kalau sudah ada calon."

    "Calon? Enggg.... belum ada Pa! Tapi niat yang sudah ada."

    "Ah kalau begitu nanti saja. Kalau kamu sudah jadi Master, pasti banyak yang ngejar-ngejar kamu."

    Aku terbahak mendengar gurauan Papa, sambil menggaruk-garuk kepalaku yang sebetulnya tidak gatal. Rasanya memang menikah belum menjadi kebutuhan yang mendesak.

    Dan sekarang, aku berada di sini, mengikuti anjuran Papa. Papa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Anton diminta untuk memilihkan tempat tinggal yang nyaman. Terlalu nyaman bahkan. Aku menempati apartemen tipe studio di Focus Apartment. Apartemen yang cukup mewah. Gedungnya berbentuk bundar. Lokasinya strategis. berada di Esplanade Avenue, Central Surfers Paradise, yaitu jalan yang berbatasan langsung dengan wilayah pantai.

    Ruanganku mempunyai jendela berkaca lebar. Dengan jelas keindahan laut terpampang di depan mata. Ombak bergulung-gulung dengan perlahan. Anak-anak kecil berlarian dan bermain pasir. Beberapa orang berenang. Sebagian lagi berjemur matahari. Matahari sudah tinggi sekarang. Aku bergegas mandi. Tidak lama lagi Anton akan menjemputku. Rencananya kami akan ke kampus dan keliling kota.

    Sudah dua minggu ini aku punya kebiasaan rutin. Menghabiskan waktu di pagi hari dengan memandangi laut. Awalnya memang begitu. Sejak kecil aku suka laut. Tapi, perhatianku kemudian beralih kepada gadis-gadis bule yang berenang dan berjemur di pantai. Pakaian mereka amat minim. Dengan teleskop kecil yang kubeli seminggu yang lalu di Dolphin Center, pusat pertokoan yang tak jauh dari apartemenku, pengamatanku jadi tampak lebih jelas. Ah... pantai yang sangat indah, pikirku.

    Lama-kelamaan, ada perasaan bersalah yang datang menyelinap. Kata-kata Zulfikar terngiang-ngiang di telingaku. Belum lama ini dia mengirim e-mail. Menanyakan kabar, plus nasehat yang mengingatkanku. Bagiku, Zul adalah guru sekaligus sahabat. Kami dekat semasa kuliah. Ia membimbingku dalam masalah agama dan yang mengenalkanku pada dunia anak Rohis. Sekarang Zul bekerja di perusahaan nasional dan membina Rohis di kantornya. "Hey Rio, hati-hati! Di sana jangan umbar pandangan. Jaga diri kamu baik-baik." Aku tak akan lupa kata-kata Zul lewat telpon ketika hari keberangkatanku ke Australia. Aku pun menghentikan acara memandang laut di pagi hari.

    Kehidupan kampus menyenangkan. Aku mudah akrab dengan banyak orang. Ada beberapa gadis yang tampaknya mendekatiku. Dua bule dan satu Philiphine. Salah satunya sering memaksa untuk mengantarku pulang. Dengan berbagai dalih, ada saja caraku untuk menolaknya.

    Sayang, dari semua gadis yang kutemui, tidak ada satu pun yang menutup aurat. Gadis dari Indonesia, jangankan berjilbab, malah ada yang bercelana pendek ke kampus.

    Jarak dari Focul Apartment ke Bond University cukup jauh. Setiap kuliah, Anton selalu menjemputku. Aku tak enak bergantung terus padanya. Aku lalu mencari apartemen yang lebih dekat dengan kampus. Yang bisa dicapai dengan bus atau berjalan kaki.

    Tiga bulan kemudian aku pindah. Homestay ke sebuah rumah yang cantik di daerah Burleigh. Pemilik rumah adalah sepasang suami istri dengan dua orang anak. Yang tertua, laki-laki, sudah bekerja dan tinggal di Sydney. Anak perempuan mereka, Kathy, kebutulan juga kuliah di Bond University. Nuansa kekeluargaan lebih terasa di sini. Kami cepat sekali akrab. Rasanya aku betah. Kadang-kadang aku ikut membantu memotong rumput atau mengerjakan pekerjaan rumah.

    Malam itu baru saja aku akan mulai belajar. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan muncul wajah Kathy di balik pintu. "Rio, I have to make a paper about Indonesian culture. Would you help me?"

    Aku mengangguk. Lalu sepanjang malam aku berceloteh panjang lebar tentang budaya Indonesia sejauh yang aku tahu. Kathy memperhatikanku dengan seksama. Kadang-kadang ia menyela dengan pertanyaan.

    Berada berdua saja di dalam kamar dengan Kathy membuatku merasa gerah. Tubuhnya hanya dibalut kaos tanktop dan celana pendek, yang dua-duanya sama-sama ketat dan membentuk lekuk tubuh dengan jelas. Sebagai laki-laki normal, tentu saja ada reaksi melihat Kathy yang berpakaian sangat minim. Apalagi jarak kami sangat dekat.

    "Kathy, it's late now. I am sleepy. We'll discuss tomorrow," kataku sambil bergerak ke arah pintu untuk mempersilahkannya keluar. Tiba-tiba Kathy mendekatkan tubuhnya padaku dan berkata, "Don't you feel that I am in love with you? I love you since the fist time I saw you. Now, I wanna make love with you."

    Mendadak Kathy memelukku dengan erat dan tiba-tiba ia sudah berada di atas tubuhku. Cepat sekali gerakannya. Sejenak seluruh sistem saraf dan kontrol pada tubuhku jadi tidak berfungsi. "I know you want me too Rio," desahnya lirih. Pikiranku kacau. Tidak lagi bisa berpikir dengan jernih. Siapa pula yang ingin menolak kalau keadaannya seperti ini.

    Namun sebuah sinyal alarm masih sanggup berbunyi di pusat kalbu, menyuarakan tanda bahaya. Aku mengelak, melepaskan pelukannya. "Come on!" Kathy berusaha meraihku.

    Masa bodoh apa yang dikatakannya. Aku tak perduli. Aku merasa takut. Dengan cepat Kathy kuseret, kubuka pintu, dan kudorong ia keluar kamar. Pintu berdebam keras, lalu ku kunci rapat-rapat.

    Di balik pintu aku jatuh terduduk, bersimpuh. Tubuhku menggigil. Aku takut. Takut sekali. Belum pernah aku merasa takut seperti ini. Takut pada diriku sendiri yang mungkin saja tak sanggup untuk menguasai diri. Takut kepada dosa besar yang tak pernah terbayangkan akan terjadi.

    Aku terisak. Ini pertama kalinya menangis setelah dewasa. Aku bangkit. Berwudhu dan shalat syukur. Bersyukur atas pertolongan Allah yang menghindarkanku dari jerat-jerat yang menjerumuskan. Kalau bukan Allah, lalu siapa lagi penolongku? Esoknya, tanpa pikir panjang, aku berkemas dan langsung angkat kaki dari rumah itu.

    Terinspirasi dari kisah perjalanan Sayyid Quthb ke Amerika Serikat dan kisah Nabi Yusuf as.