
dakwatuna.com - Sahabat, ketika aktivitas kita begitu padat, agenda-agenda menumpuk, pekerjaan dan tugas- tugas belum tertunaikan, pernahkah Anda merasakan kelelahan? Ya, tentu Anda pernah mengalaminya, rasa lelah yang amat sangat dikarenakan terkurasnya energi kita dalam melaksanakan rutinitas harian kita, terkurasnya energi kita dalam menjalankan amanah yang dibebankan, letih, lelah dan kadang kita merasakan kebosanan yang luar biasa. Apakah ini salah? Bagi saya ini tidak salah, itulah fitrah manusia yang kadangkala merasa jenuh, merasa lelah dan bosan. Kita adalah manusia, kita bukan robot, tubuh kita juga mempunyai hak-hak yang harus kita tunaikan.
Sahabat, kelelahan
seringkali bukan hanya menimpa fisik kita saja, tapi kelelahan juga
dapat menjangkiti jiwa- jiwa kita. Rasa bosan, kemalasan, kekeringan
spiritual dapat pula menjangkiti ruh dan jiwa kita. Ternyata bukan hanya
fisik kita saja yang dapat lelah, tapi jiwa dan ruh kita juga dapat
merasakan lelah.
Kelelahan fisik dapat kita atasi dengan cukup
istirahat, menambah asupan gizi, serta mengkonsumsi vitamin dan makanan
lain yang mengandung nutrisi–nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita.
Memperhatikan hak-hak tubuh kita dengan proporsional.
Bagaimana dengan keletihan ruh dan jiwa kita? Kadangkala keletihan jiwa ini malah menimbulkan efek yang luar biasa bagi diri kita, ketika jiwa lelah, rasa bosan dan malas menyerang, nilai spiritual yang kering, mengakibatkan diri kita malas untuk melakukan sesuatu, bahkan fisik yang sebenarnya sehat pun kadangkala menjadi sulit untuk digerakkan. Apakah memang benar ungkapan di dalam tubuh yang kuat pasti terdapat jiwa yang sehat? Kadangkala kita secara lahiriah tubuh kita tampak sehat, akan tetapi jiwa kita sakit.
Sahabat, beristirahatlah sejenak ketika rasa
lelah itu menghampiri kita, menghampiri jiwa-jiwa kita. Ketika ruh ini
mulai mengalami kekeringan spiritual, ketika kita merasakan
ketidaknyamanan dalam hati kita, ketika kita mulai merasa galau, gundah
gulana, gelisah, marah, kacau, maka beristirahatlah sejenak. Renungilah
kembali apa yang telah kita lakukan, sediakan waktu khusus untuk
bermunajat kepada –Nya. Kembali merenungi dan bermuhasabah diri. Asahlah
kembali gergaji spiritualitas kita agar kembali tajam.
Hiburlah
jiwa kita, berilah dia asupan nutrisi yang baik, sehingga kekeringan
jiwa kita kembali tertetesi oleh embun-embun keimanan. Hiburlah jiwa
kita dengan memperbanyak intensitas munajat kita kepada-Nya. Hiburlah
jiwa kita dengan mentadaburi ayat-ayat-Nya. Hiburlah jiwa- jiwa kita
dengan mendatangi taman-taman surga yang ada di dunia, majelis-majelis
penumbuh keimanan, majelis-majelis dzikir. Hiburlah jiwa- jiwa kita
dengan memperbanyak silaturahim, mengunjungi orang-orang shalih,
mengunjungi karib kerabat. Hiburlah jiwa- jiwa kita dengan membaca
kembali sejarah perjuangan para pendahulu kita, membaca kembali sejarah
dan biografi Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Sahabat, marilah
kita kembali berupaya mengkhusyukan jiwa dan hati kita, yang mungkin
merasa lelah dan jenuh atas segala aktivitas dan rutinitas kita.
Beristirahatlah sejenak dan bangkitlah kembali. Kembali merenungi
perjalanan yang telah kita lakukan, melihat kembali karya yang telah
kita torehkan. Beristirahatlah sejenak sahabat, lepaskanlah kepenatan
itu, tataplah hari esok dengan kekhusyukan hati dan kedamaian jiwa.
“Belumkah
datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam
mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan
bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah
diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antar mereka (dengan
sang Rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka menjadi keras, dan banyak
dari mereka menjadi fasik” (QS. Alhadid: 16).
Wallahua’lam bi showab.