dakwatuna.com – Tulisan di bawah ini hanya fiktif belaka. Tidak bermaksud mendiskreditkan satu, dua atau banyak orang. Atau bahkan apa yang akan saya tulis adalah kesalahan-kesalahan masa lampau yang mengerikan. Namun sarat hikmah. Atau Anda pernah mengalaminya? Entahlah, Ini hanya hasil imajinasi “nakal” saya yang menggila. Ruang jiwa yang kerap terbang membumbung. Mengeja setiap jengkal nikmat yang sangat memikat. Nikmat dari Sang pemilik “hakikat” dunia akhirat. “Dunia privasi” yang seringkali mengangkasa pada masa yang kadang tak berharap jasa. Saya hanya ingin menulis. Ya, menulis walau hanya satu detik. Menulis walau hanya satu kata. Menulis meski hanya satu makna. Menulis meski dengan terbata-bata.
Kader “keder” mungkin (kata mungkin, mempunyai sifat keragu-raguan bagi si pengucap) sedikit nyleneh di
beberapa daun telinga manusia. Inspirasi judul tulisan ini saya
dapatkan ketika mengikuti sebuah daurah beberapa waktu ke belakang.
Ustadz nya keren “kebijaksanaan orang tua namun berjiwa muda” kocak deh
pokoknya. Entah pada materi apa? Yang pasti saya menyimpulkan dari apa
yang disampaikan dengan KADER “KEDER”.
Ya kader “keder”. Saat iman
terkerangkeng kefuturan. Saat jiwa terkungkung virus “dunia”. Saat
takwa terperkosa akhlak biadab. Saat intelektual tertelanjangi
keangkuhan ruh yang ringkih. Saat azzam teraniaya kepicikan syaitan.
Saat ghirah terseret budaya jahiliyah. Saat amal dihantui kejahatan
riya. Saat ilmu tergulung derasnya ghazwul fikri. Saat tantangan dakwah
terkurung glamournya gaun propaganda yang kerap menjengkelkan. Hhaah,
saat-saat yang tepat pasti kelak memecat keparat-keparat yang tak
membawa manfaat lagi sesat dengan nikmat yang hanya sesaat. Kita hanya
bisa bermunajat dan berkhalwat dengan “pemilik” jagat.
Kader
“keder”, kerap terjadi dengan beberapa sketsa. Kader “keder” bermula
dari hal-hal terkecil yang kadang tak terkontrol. Misalnya penyakit
futurtinular. Futur dimana kondisi kader berada pada titik yang
mengkhawatirkan. Yaitu ketika cahaya ghirah turun drastis. Suhu tubuhnya
meningkat, kepala mulai pusing disertai mual. Tak sanggup mengobati
diri sendiri. Akhirnya memanggil sahabat terdekat untuk mengompres dan
membelikan obat. Setelah sembuh, karena si sahabat tak memperhatikan
tata cara mengobati yang sakit. Ujung-ujungnya ia ketularan. Mirip
dengan diagnose pertama.
Begitulah saya mencoba analogikan
bagaimana futurtinular sangat berbahaya. Ia berawal dari kader “keder”
yang sakit iman. Lalu ia curhat kepada sahabat terbaiknya. Tapi apa
kemudian yang terjadi? Karena tak mempunyai pengetahuan tentang
pengobatan sakit iman. Ia pun tertulari futur. Fenomena ini kerap
terjadi di kalangan penggiat dakwah.
Kader “keder” yang terkena virus futurtinular mempunyai ciri sering berkelit, cerdas banyak alasan. Ketika ada jarkom untuk mentoring/halaqah ia hare-hare sajeboro-boro
bernafsu untuk datang, membalas smsnya pun ogah-ogahan. Lama tak
berbalas Sang Murabbi/mentor yang bersih hatinya duduk menatap
langit-langit. Diambilnya handphone tut tut tut di pencetnya beberapa
tombol. Satu kali, kagak diangkat. Dua kali, masih juga tak ada jawaban.
Ketiga kali, empat kali dan seterusnya hingga entah sudah berapa ratus
kali ia mencoba. Tapi setelah hampir menyerah diangkatlah panggilannya
oleh sang mutarabbi/mentor.
Hhhah, Alhamdulillah wajahnya sang
mentor sumringah bahagia tak terhingga bagai mendapat rizki yang tak
terduga. “Dek sehat? Bisa mentoring hari anu jam seanu?”.
“Hmm alhamdulillah sehat, maaf mba/mas ada kuliah” jawab sang mentee
tersayang. “O gitu kalo hari anu jam se anu?”, Tanya mentor penuh harap.
“Maaf gak bisa juga, ada rapat organisasi. Tar aja ya mba/mas saya
kasih tahu lagi jadwal kosong saya”. “Hm, ia. Mohon diluangkan waktunya
ya shalih/shalihah”. Tut tut tut hp mati. Uda gitu mentee yang satu ini
Tanya-tanya ke teman sekelompoknya. “Eh, Antum mau datang mentoring
ndak?”, endusnya. “Insya Allah”, jawab temannya. “Eh, ana mah ndak akan
datang. Nggak enak badan”, jawabnya lagi. Teman: “hmm gitu, ya semoga
cepat sembuh”. “Antum bener mau berangkat, mending pekan depan atuh
bareng sama ana”, rayunya. “Hmm (mikiir), ia deh”. Sabaaaar ya mentor
it’s the real futurtinular.
Tidak mudah memang memahamkan sebuah
prinsip yang agung. Selalu ada harga yang harus dibayar mahal oleh
setiap da’i dalam memperjuangkan nilai-nilai dakwahnya. Tapi ya itulah
keniscayaan. Kadang tak mesti sesuai kehendak logika. Ia hanya mampu
diterima oleh ruang yang tak teraba. Padahal ketika kita jernih dan
ikhlas dalam “belajar”. Niscaya kita akan terbebas dari
belenggu-belenggu kemalasan yang menggelayut. Karena pada dasarnya
pembinaan/belajar adalah suatu kebutuhan bagi setiap insane. Hal ini
berawal dari sifat manusia yang papa. Lebih dari itu pun perlu kita
ketahui bahwa ilmu dengan beberapa ketentuan mampu meningkatkan derajat
kita di hadapan Allah swt. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila
dikatakan kepadamu ‘berilah kelapangan di dalam majelis-majelis’ maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan ‘berdirilah kamu’ Maka berdirilah, niscaya Allah akan
mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha teliti apa
yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Kader “keder” itu. Kaya tapi.
Haduh harusnya saya ngementor, tapii lagi males ah. Hmm, mestinya saya
syuro persiapan acara hari ini, tapii nggak terlalu penting ah ada saya
ato nggak juga. Mending saya lanjutin tidur selepas subuh deh. Lumayan,
daripada capek-capek syura pagi-pagi jam 6. Wah sekarang jadwal halaqah
saya, tapii. Percuma ah dating halaqah juga, pasti bahas yang itu
lagi-itu lagi. Lagian saya kan uda lebih hebat dari mentor saya. Ngaji
uda fasih, pengetahuan mumpuni. Oh iya, saya baru inget. Hari ini kan
jadwal saya jaga stand agenda. Tapii, tanggung ah uda telat mending
nggak sekalian. Pasti di sana uda banyak yang jaga.
Kader “keder” cenat-cenut.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kinerja dan komunikasi kader
dakwah. Pra berkembangnya teknologi dengan lahirnya handphone, internet
dsb. Apakah ketika ada sesuatu yang harus disampaikan Cuma-Cuma melalui
surat atau memo? Atau seperti apa, entahlah. Yang pasti dewasa ini
pergolakan globalisasi merajai setiap gerak manusia termasuk kader
dakwah. Ketika muncul hp sedikit banyak menurut saya penjagaan interaksi
mengalami degradasi. Facebook pun menggila. Komen ikhwan-akhwat sudah
tidak mudah lagi terdetek masih sehat atau tidak. Disparitas cyberspace
dengan dunia nyata sudah tertabrak budaya. Kader-kader militan dalam
dunia nyata tidak dipungkiri mudah tergelincirkan hanya dengan satu
jejaring social. Nggak percaya? Silakan cek sendiri. Kemarin saya
iseng-iseng coba web tentang ini. Hasilnya mencengangkan! Pantas saja
jika dikatakan bahwa dakwah ini akan hancur oleh pengusung dakwah itu
sendiri. It’s the real fact (salah gak?)
Bahasan ini memang
sedikit menggelitik. Karena seringkali adanya ketergelinciran antara
ghirah yang menggebu dengan kelalaian iman. Sudah banyak memang yang
terjadi. Ketika hubungan yang seharusnya diikat dengan balutan nan
syar’i ternodai benih noda yang menghancurkan segalanya. Tidak jarang
juga kita dapati virus cenat-cenut mengantarkan kader dakwah pada satu
kata yang menjadi satu “tawaran sementara” yang menggiurkan bagi
siapapun sebagai manusia biasa Pacaran. Atau bahkan sampai
berlabuh pada jenjang pernikahan. Moment satu itu SUCI. Relakah jika di
tengah bergolaknya semangat dakwah, saudara perjuangan kita terhijabi
oleh virus cenat-cenut?
Sudah sejauh mana kita bersama menjaga
saudara/i kita? Saling mengingatkan. Apakah kita sudah secara ikhlas
mengingatkan saudara/I kita ketika mereka melakukan kesalahan (tidak
hanya masalah cenat-cenut)? Atau hanya ambisi dan emosi semata. Tidak
jarang juga dari kita lebih suka membahas/ membicarakan si terdakwa
dengan saudara/saudari kita yang lain daripada mengingatkannya.
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain.
Kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf: 67)
Karena ruh
yang tak terjamah masih bisa terasa oleh kulit wajah. Sebagai orang
komunikasi saya seringkali mengamati kader yang merasa kurang nyaman
dengan sikap seseorang memilih sindiran sebagai senjata untuk
mengingatkan. Kedipan mata, tatapan wajah, goyangan tangan bahkan mampu
berbicara mewakili apa yang sedang dipikirkan tentang kita. Aneh tapi ya
itulah realita. Padahal tanpa sindiran saya yakin si terdakwa akan
legowo menerima nasihat terbaik dari saudara/inya. Syaratnya satu;
Ikhlas. “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia
mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri” (HR Bukhari Muslim)
Maka ketika kita mencintai saudara
kita seperti kita mencintai diri kiri sendiri. Sanggupkah kita memusuhi
diri kita sendiri karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan? Relakah
kita menyiksa diri kita atas kekhilafan diri? Semua kembali pada muara
yang satu: IMAN. Semua akan baik-baik saja jika ia sehat dan terawatt.
Tetapi jika tidak maka mudah sekali baginya merasa “ketidaknyamanan”
dalam hubungan berukhuwah. Jadi teringat pesan Salim A Fillah
Kubaca firman persaudaraan, “sungguh tiap mukmin bersaudara” aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukai. Aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit mungkin dua-duanya, mungkin kau saja. Tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping.
Semoga
kita selalu dalam garis perbaikan diri dalam dekapan Illahi. Mohon maaf
atas kata yang sia-sia. Mandat yang tak bermanfaat. Berharap kemudian
Kader “keder” bertransformasi menjadi lintasan cahaya kebangkitan
dakwah. Tidaklah kita akan terpuruk terlampau lama dalam desingan
cobaan. Karena lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Wallahau’alam. Astaghfirullah^^.
–
Salam inspirasi.