Pagi ini, di sebuah forum ukhuwah dari suatu lembaga dakwah,
aku bertemu seorang akhwat, saudariku. Saudari seimanku. Seorang yang
aq menjadi saksi atas hijrahnya beliau. Seorang yang pernah mengatakan
“jika kaum anshar dipersaudarakan dengan kaum muhajirin, maka aku ingin
dipersaudarakam Aisyah—begitu ia memanggilku.” Meskipun aku tak
mendengar langsung kalimat itu, tapi hatiku tersentak, terharu lebih
tepatnya. Alhamdulillah Allah memberinya hidayah melalui pertemuan kami,
dan aku sangat salut atas hijrah beliau yang luar biasa… akupun sangat
ingin dipersaudarakan dengannya…
Senang sekali melihatnya saat itu.. sudah lama sekali kami tak
bertemu.. hhf..sungguh aku merindukan akhwat shalihat yang satu ini…
layaknya dua orang akhwat yang baru bertemu, kami bertukar cerita…
“aku sepertinya ingin keluar ukh dari ***” (dia menyebutkan sebuah
nama organisasi di fakultasnya, organisasi heterogen memang, dimana ia
di amanahkan tuk amar makruf nahi mungkar disana) tiba-tiba aku
mendengan keluh itu dari bibirnya…
Sontak aku kaget.. ia orang yang Qowi (kuat) dan sangat memegang
prinsip setahuku… dan jika ia sampai berkata seperti itu, berarti
benar-benar ada sesuatu yang mengganggunya.. “knapa ukh?”tanyaku…
“aku mulai ga kuat, terlalu heterogen ukh… aku sudah sangat merasa
dilecehkan…” belum selesai ia menyampaikan keluhnya, aku dapat mecerna
sudah apa yang terjadi.
“ahh..knp hal yang sama terjadi? Persis 2 hari yang lalu aku mengalaminya juga”
Memang ketika amanah yang dipilihkan Allah untuk kita adalah di suatu
tempat yang heterogen, ini menjadi sebuah tantangan tersendiri… Suatu
tempat yang sangat sangat heterogen, sedang kita disana harus menegakkan
syariat islam dan tidak jarang SENDIRIAN… Yah,sebenarnya memang tidak
sendirian karena Allah bersama kita, namun secara fisik kita sendirian…
dan tidak jarang memang kita mendapatkan pertentangan dari yang lain,
baik dari yang beragama islam sendiri apalagi yang bukan. Berharap kita
yang sedikit ini dapat “mewarnai” dengan indahnya warna-warni islam dan
mempertahankan diri agar “warna” yang sudah kita punya tak luntur dengan
melebur dalam pelanggaran syariat.. Ironis memang, dakwah tuk
menegakkan kalimat Allah justru malah dihalangi oleh umat-umat Islam itu
sendiri…
Aku mendengarkan ceritanya… sebagaimana ia akhirnya mendengarkan ceritaku…
Well.. ternyata kita hanya butuh didengarkan.. kita hanya butuh
meluapkan ini semua… kita hanya butuh mengeksprisikan hal ini agar tak
memendam dan membusuk di dlm dada…
Memang setelah ini kita mau apa? Mau lari dari amanah ini? Lari dari
dakwah? Dan membiarkan Allah menggantikan kita dengan orang yang lebih
baik?dimana Allah mencintai mereka dan mereka mencintai
Allah?sebagaimana firmanNya:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad
dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut
terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang
kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan
orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada
siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi
Maha Mengetahui.” (Al-Maidah:54)
Tidak! Sungguh tidak! Kami berlindung dari ini semua… pilihannya
hanya dua, bergerak atau tergantikan… ini adalah sebagian kecil dari
jihad kami menegakkan Kalam Allah di muka bumi ini, jihad yang belum ada
apa-apanya dibanding jihad para Nabi dan sahabat… kami sungguh tidak
ingin kami tergantikan oleh kaum lain yang Allah mencintai mereka dan
mereka mencintai Allah… kami juga ingin menjadi bagian dari itu… bagian
dari mencintai dan dicintai Allah… “perkenankanlah Rabbi…kuatkan
kami…aamiin”
Mengenai perkataannya yang ingin keluar dari amanahnya… Ahh..semua
orang jika dalam keadaan putus asa dan down juga bisa berkata seperti
itu.. perkataan yang hanya ia ucapkan dari bibirnya… jauh di dalam
hatinya, aku yakin ia sama sekali tak ingin meninggalkan amanah ini… ia
akhwat yang kuat,insyaAllah… dan aku percaya ia mampu bertahan… dan
pasti karena ia mampulah Allah memberikan amanah ini padanya… Sungguh,
Allah tak akan membeban amanah diluar kemampuan hambanNya…
Wallahu’alam..
“jika hanya berdakwah, semua orang juga bisa.. namun sekarang
bagaimana saatnya kita cinta pada dakwah… cinta itu butuh pengorbanan..
dan tiada pengorbanan tanpa keikhlasan…”
sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/aisyah-ketika-amanah-ini-diuji.htm
