dakwatuna.com - Semalam aku mengirim SMS kepada seorang kawan.
Aku bertanya, “Hai Fulanah, bagaimana rasanya tidak lagi berpacaran??
Kawanku menjawab dengan sebuah kalimat kiasan, “Dulu saya bagai meminum air berwarna dan kini saya bagai meminum air putih.”
Agak mengernyitkan alis ketika saya membaca balasan SMS itu. Air putih dan air berwarna?? Apa maksudnya?
Saya kembali mengirimkan SMS untuk mendapatkan jawaban untuk pernyataan yang membingungkan saya.
Saya
sekarang seperti meminum air putih. Rasanya tawar tapi saya tidak akan
mau untuk merasa bosan. Karena saya sudah tahu manfaatnya. Semakin saya
banyak minum air putih itu semakin banyak manfaatnya untuk diri saya.
Mungkin selama ini saya lebih suka air berwarna, tanpa sadar air
berwarna itu yang membuat diri saya menjadi tidak sehat. Jomblo itu air
putih dan pacaran adalah air berwarna.
Begitulah balasan SMS yang membuat saya mengerti akan perasaannya kini. Dan itulah curhat langsung dari “Sang Mantan”.
Dulu
saya kenal ia masih menganut sistem pacaran. Ia pun dekat dengan kawan
pria lainnya. Terlebih lingkungan kerjanya yang memang belum ada batasan
mengenai pergaulan, sedang kawan saya masih belum bisa terlepas dari
lingkungan seperti itu meskipun hatinya sering dilanda kegelisahan.
Keterbatasan pergaulan juga membuat dirinya seakan terkungkung pada
dunia yang itu-itu saja, termasuk masalah pacaran (terasa aneh bagi yang
tidak mau pacaran). Ia jengah.
Alhamdulillah. Perlahan
ia ditunjukkan Allah lewat kegelisahan hatinya ketika melakukan sesuatu
yang tidak Allah sukai. Fulanah dibukakan pikirannya untuk lebih banyak
mencari ilmu yang bermanfaat. Hal-hal yang dulu seakan nothing baginya,
kini menjadi makanan jiwanya. Dia menjadi jauh lebih bersemangat. Ia
ingin melepaskan sedikit demi sedikit pengaruh pergaulan dari lingkungan
pekerjaannya. Hingga ia ditakdirkan berpindah dari tempat kerjanya, ia
mulai berhijrah untuk berkerudung.
Tentang pacarnya. Allah
menunjukkan suatu jalan melalui suatu peristiwa yang akhirnya secara
tidak langsung membuka keburukan sifat pacarnya. Dan Fulanah tidak lagi
berhubungan dengan pacarnya sejak saat itu.
Berawal dari niat
untuk berubah kearah lebih baik dan Allah mendengar setiap keinginan
walaupun yang belum terucap. Perlahan Allah menunjukkan kasih sayangNya
lewat jalan yang tidak disangka-sangka.
Lalu, apa kabarnya dengan hati Fulanah kini??
Di
antara lalu lalang pasangan (tidak halal) di depan matanya, seperti
sebuah isyarat kebahagiaan bahwa ia telah meninggalkan sesuatu yang
buruk, ia menjadi beda. Beda dalam kebaikan. Apalagi ketika ia semakin
paham sederet efek negatif dari pacaran dari beberapa artikel yang ia
baca atau dari kisah kawan-kawannya.
Fulanah kini paham tentang
arti kesia-siaan dalam berpacaran. Ketika berpacaran belum tentu
pacarlah yang menjadi jodohnya kelak. Padahal sudah capek hati, capek
pikiran, capek tenaga, capek kantong dan capek segalanya untuk si pacar.
Lebih baik ia menggunakan waktunya untuk melakukan hal-hal yang
bermanfaat hingga nanti pada saatnya biar Allah memberikannya seorang
suami, bukan pacar.
Meskipun sempat merasakan agak trauma dengan
seorang pria bahkan seperti “mati rasa”, namun kini ia jauh lebih baik.
Pria dan pacaran, bukanlah satu-satunya masalah yang menggelayut
hatinya. Ia lebih merasa enjoy saat ini, ia bisa melakukan sesuatu yang
sebelumnya belum bisa ia kerjakan karena berpacaran. Ia lebih bisa
menjaga diri dan hatinya dari seseorang yang belum halal. Ia menjadi
lebih dekat kepada PenciptaNya. Ia jauh lebih menikmati hidupnya kini. Alhamdulillah.
Fulanah
kini masih sendiri dan acapkali mendapat undangan pernikahan dari
kawan-kawannya. Terkadang ia diminta menjadi panitia pernikahan. Sebagai
seorang wanita normal, pastilah memiliki keinginan untuk mengundang
karib kerabatnya juga dalam sebuah pernikahan spesialnya. Tapi Allah
masih menginginkannya untuk menuai pahala menempuh kesabaran. Keinginan
yang terbesit tak membuatnya patah arang. Penantiannya kini menjadikan
ia lebih strong dan tidak lembek sebagai seorang wanita.
Seperti
kiasan yang ia sampaikan, kini ia merasakan manfaat dari air putih. Air
yang jarang dipilih orang karena membosankan dan tidak ada rasa sama
sekali tapi justru paling menyehatkan dibanding minuman lain. Sedang
dahulu ia merasakan kelezatan pada air berwarna meskipun sejatinya itu
berdampak tidak bagi tubuhnya.
Perumpamaan yang indah, yang
merupakan penggambaran keteguhan dari seorang wanita yang telah
berhijrah kearah yang lebih baik karena mengharap keridhaan dari
RabbNya.
Sebuah hikmah yang bisa saya ambil, ketika kita berniat
ingin menjadi lebih baik dan berusaha untuk mendekati Allah, maka Allah
akan membantu kita. Kita berjalan menuju Allah dan Allah akan berlari
mendekati kita.
Semoga Fulanah tetap istiqamah dalam masa penantiannya. Dan keberkahan selalu melingkupi setiap jejak langkahnya. Aamiin.
Allahua’lam.
—
Sebuah kisah nyata seorang kawan.
