
dakwatuna.com – Ramadhan telah meninggalkan kita, tanpa kita sadari apa hikmah yang bisa ambil dari Ramadhan tahun ini. Berbagai target telah direncanakan ketika awal Ramadhan, pelaksanaannya yang menjadi bukti. Tiga puluh hari itu menjadi bukti bagaimana keadaan iman kita sebenarnya. Waktu yang cukup lama untuk memperjuangkan konsistensi ibadah menyediakan waktu bagi kita untuk terus mengevaluasi kinerja dan konsep ibadah. Berbagai usaha kita lakukan untuk menggapai derajat pemenang di bulan mulia ini.
Dan
semua pun akan berakhir, begitu pula Ramadhan. Di sini puncak ujian
kita sebagai seorang hamba, mampukah kita menghadirkan ibadah terbaik
selama sebulan penuh kepada Allah? Padahal semua ibadah adalah untuk
kita sendiri kecuali satu, ibadah puasa. Kepasrahan kita dalam
menyerahkan hadiah ini kepada Allah sangat mempengaruhi amalan
sehari-hari. Banyak orang yang berpuasa tapi dirinya tidak mendapat
apa-apa selain lapar dan haus. Sungguh amat disesalkan ketika ibadah
spesial ini kita lewati dengan kesia-siaan.
Pelajaran
berharga ini akan memberikan kita pengalaman yang berharga bagi diri
sendiri di waktu yang akan datang. Kekuatan iman akan kembali diuji
tatkala konsistensi amal ibadah kita digoyahkan dengan tiada keutamaan
di waktu kita melaksanakannya. Sebenarnya pada masa itulah kita mendapat
kemuliaan yang lebih sebagai seorang hamba sekaligus seorang ahli
ibadah. Karena pada saat Ramadhan, dengan begitu mulianya bulan ini
ditambah begitu semangatnya umat muslim lain dalam menjalankan ibadah,
maka ketinggian nilai ibadah akan terasa wajar. Berbeda jika kita
melakukan hal itu di hari-hari biasa.
Puncak ibadah
terjadi ketika bulan Ramadhan, di hari biasa kebanyakan orang mengurangi
kuantitas ibadahnya dan lebih fokus dalam urusan dunia. Atas sebab itu,
maka tidak ada perbedaan secara realistis antara bulan Ramadhan dengan
bulan-bulan lainnya. Ramadhan hanya bonus yang diberikan Allah untuk
merangsang hamba-Nya dalam melakukan amalan ibadah. Ramadhan juga
berfungsi untuk meningkatkan kualitas keimanan sehingga setelah Ramadhan
keimanan kita bisa lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Setelah
sebulan penuh kita memberikan hadiah ibadah kepada Allah, kini giliran
Allah yang membalas. Allah berikan sebuah hari yang sangat istimewa,
yang Allah jadikan hari itu sebagai perayaan atas kemenangan umat Islam
dalam mengalahkan hawa nafsunya. Hari yang menandakan kelulusan atas
perjuangan kita. Dengan kata lain, Allah telah mewisuda kita di hari
itu. Sebuah wisuda atas keberhasilan kita dalam kesempurnaan menjalankan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Maka patut
bagi kita untuk menyandang sebuah gelar yang sangat istimewa, Sarjana
Ramadhan. Layaknya seorang sarjana, maka hal terberat yang akan dihadapi
adalah pasca kelulusan. Fakta di lapangan akan membuktikan apakah kita
mampu menerapkan hasil sarjana, atau kemudian kita hanya menjadi
pengangguran yang tak tentu arah.
Semua ini sangat
tergantung pada keimanan yang telah membuat kita berkarya menjadi
Sarjana Ramadhan. Seorang sarjana akan sangat berguna apabila hasil
karyanya mampu menyumbangkan hal yang positif bagi sekitar. Maka apa
yang kita lakukan seharusnya bisa berdampak positif dan semakin
meningkat dalam hubungan kepada Allah dan juga sesama manusia.