dakwatuna.com - Pernahkah terlintas di benak kita, sesuatu ganjil yang senantiasa terus-menerus mengusik Qalbu? Kita yang selama ini sering terlena oleh kesibukan-kesibukan dunia sehingga hanya menyisakan secuil waktu untuk urusan akhirat. Betapa banyak di antara kita, yang mengerti bahasa inggris setelah membaca karangan berbahasa Inggris ataupun menonton film Inggris? Atau kita mengerti bahasa Jepang setelah menonton film Jepang? Namun, mengapa kita yang setiap hari membaca Al-Quran, sampai hari ini belum paham bahasa Arab.
Ternyata, Al-Quran juga mempunyai sisi lahir dan
batin. Secara lahiriah kita dapat melihat dan semua orang juga dapat
melihat secara jelas, kecuali orang yang bermata buta, huruf-huruf dan
tulisan yang tertulis di permukaan Al-Quran. Baik mukmin, muslim, kafir,
munafiq, musyrik, orang dewasa dan anak-anak bisa melihat al-Quran dari
sisi lahiriah. Al-Quran juga mempunyai sisi batin yang hanya bisa
dilihat oleh orang-orang yang mempunyai keimanan, mereka mempercayai
bahwa pentingnya membaca Al-Quran serta mengamalkannya. Oleh karena itu,
para kader dakwah tidak hanya memfokuskan amal yaumiahnya di seputar
target hafalan dan tilawah/bacaan (minimal 1 hari 1 Juz), namun luangkan
waktu untuk mentadabburi ayat-ayat Al-Quran dalam sehari beberapa ayat.
Misalnya
saja, Al-Baqarah: 129, Al-Baqarah: 151, Ali Imran: 79, apabila kita cek
di Al-Quran terjemahan, tentu makna dari ayat tersebut tidak terlepas
dari kata: membaca, mengajarkan, mensucikan/membersihkan diri,
mempelajari. Dari ayat tersebut sudah seharusnya kita mengamalkan
ayat-ayat tersebut, jika kita mendapatkan suatu ilmu mungkin dari
mempelajari di sekolah dan kampus ataupun dari bacaan, maka kita disuruh
untuk mengajarkan kepada orang lain dan juga kita sucikan diri dari
sifat-sifat yang mendekati kekotoran (sombong, ujub, riya, dsb).
Kita
juga bisa telaah ke awal surah Al-Baqarah, di sana di jelaskan
urutannya yaitu: beriman, shalat, dan berinfak. Kemudian di akhir
ayatnya “… mereka itu orang-orang beruntung”. Berarti, orang yang
beruntung itu sudah di jelaskan di awal, mereka yang beriman (tidak
musyrik), yang mengimani Allah, para malaikat, kitab Allah, Rasul dan
Nabi, Qadha dan kadar, serta mengimani hari akhirat. Setelah itu mereka
yang menegakkan shalat dan berinfak. Realita dalam kehidupan kita,
mengapa masih banyak yang merasa kesusahan, serba kekurangan dan semakin
mengejar urusan dunia? Karena itulah penyebabnya, shalat nya
bolong-bolong, sunnah nya (Dhuha dan tahajud nya tidak ada), dan malas
bersedekah.
Al-Qur’an tidak hanya sekadar di baca (mungkin, untuk
mengisi lembar mutaba’ah dari murabbi/ah target 1 juz 1 hari), namun di
pelajari, di tadabburi serta di amalkan sehingga menjadikan kita pribadi
Qur’ani. Aamiin.
Adapun yang menghambat kita dalam mentadabburi
Al-Quran ialah, karena pikiran kita yang sudah terdoktrin dari dini
bahwa mentadabburi Al-Quran itu luar biasa sulitnya. Selain itu, karena
ada sesuatu yang menghalangi kita, di antaranya:
1. Hanya sibuk
dengan tajwid. Sambil membaca Al-Quran, kita tidak menyibukkan diri dan
fokus tentang makna yang di sampaikan Al-Quran, namun kita sibuk
bertanya: udah benar apa belum tajwid yang saya baca tadi? Memang benar,
mempelajari hukum tajwid itu wajib agar tidak salah makna dan tidak
salah baca. Tetapi, jangan sampai hal ini membuat kita lalai dan hanya
fokus kepada tajwidnya.
2. Fokus dengan irama bacaan syekh
tertentu. Sering mendengar MP3 tilawah, karena ingin mempelajari
“irama”. Ini merupakan kekeliruan besar. Tujuan membaca Al-Quran bukan
menguasai irama. Memang benar, Rasulullah pernah berkata, bacalah
Al-Quran dengan baik (bacaan yang baik, irama, dsb). Tetapi, irama itu
bukan untuk di fokuskan. Para sahabat/sahabiyah menangis terisak-isak
ketika di bacakan Al-Quran bukan karena mendengar bacaan Al-Quran dengan
“irama yang syahdu” dan “sendu” yang membuat merinding. Namun, mereka
menangis mendengar “makna” dari ayat yang mereka dengar. Misal tentang
ayat yang bercerita neraka, azab, kematian, musibah dan lainnya.
3.
Terus bermaksiat. Maka dari itu, sama halnya dengan impian hafizh
(penghafal Al-Quran), hal yang menghalangi kita dalam mentadabburi
Al-Quran ialah maksiat. Satu kata yang harus kita delete dari kosakata
“amalan yaumiah”, yaitu MAKSIAT.
Wallaahu’alam. Semoga kita
menjadi aktivis dakwah yang tidak hanya fokus untuk menyelesaikan target
harian (mengkhatamkan bacaan Al-Quran dalam sebulan 4x khatam), tetapi
juga fokus untuk mendalami ilmu dengan mempelajari Al-Quran dan
mentadabburi serta di amalkan. Apa gunanya, kita khatam 20 kali dalam
setahun, namun perangai kita sungguh memalukan, lebih memalukan dari si
juru maksiat. Contoh: Selebritis (bukan semua artis, lho) wajar tak
hafal hadits. Boro-boro mau menghafal hadits, menghafal Al-Quran saja
malas. Jangankan menghafal, untuk sekadar membaca aja ogah-ogahan.
Jangankan membaca, membuka Al-Quran saja tidak pernah. Jadi, wajar saja
perangai/akhlak artis banyak yang tidak beres (halim sebelum akad, zina,
aborsi, narkoba, dsb) (ingat, bukan semua artis)…
Akhir dari
tulisan ini, resep menghafal Al-Quran ialah jika kita sudah
mengikhlaskan diri untuk memberikan waktu kita mempelajari Kitabullah,
maka kitab (Al-Quran) tersebut juga mengikhlaskan untuk di hafal dan di
transfer ke Qalbu dan pikiran kita. Sama seperti ingatan kuat kita dalam
surah Al-fatihah. Karena kita ikhlas untuk senantiasa bersyukur kepada
Allah (yang ayat Alhamdulillahirobbil ‘alamiin) dan ikhlas beriman
dengan ayat ke-5, hanya kepada Allah tempat menyembah dan meminta
tolong. Untuk itu, mari kita luangkan waktu (khususnya di malam hari,
setelah qiyamul-lail) untuk konsentrasi mentadabburi Al-Qur’anul karim,
serta mencari “mutiara yang tersembunyi” di kedalaman samudera nya
Al-Quran.
sumber : http://www.dakwatuna.com/2012/09/22815/jangan-baca-al-quran-kalau-engkau-mengaku-aktivis-dakwah/
