dakwatuna.com - Hidup sendirian, terkadang sangat
menyedihkan. Sepi, hambar, tidak meriah. Ketika ada masalah, harus
dihadapi sendiri. Ketika lapar, tidak ada yang membantu. Ketika sedih,
tidak ada yang menasehati. Memang, kita bisa melakukan apa saja yang
ingin kita lakukan. Tetapi tanpa teman, tidak ada perlawanan. Misalnya,
Kita senang main PS. Tetapi, jika kita main sendirian, maka kita akan
terasa bosan, karena selalu menang.
Akan tetapi, sesungguhnya kita
butuh hidup sendiri untuk beberapa waktu. Agar kita terlatih untuk
hidup mandiri. Jika kita tidak pernah menyetrika, mencuci, memasak,
menyapu, mengepel sendiri ketika bersama orang tua, maka kita akan
melakukan semua tugas itu ketika hidup sendirian. Karena kita berada
pada keadaan terdesak, “kalau bukan saya (yang melakukan tugas), lantas siapa lagi? Kalau tidak sekarang (untuk melakukan tugas), terus kapan lagi?”.
Sekali lagi, kita perlu hidup jauh dari orang tua untuk beberapa waktu tertentu. Kata “jauh”
di sini, bukan berarti tidak ada kontak sama sekali dengan orang tua.
Masih berhubungan, tetapi tidak langsung seperti, telepon,SMS, Facebook,
e-mail, dan lain sebagainya. Agar kita belajar bagaimana rasanya hidup
melarat, di mana tidak ada yang dapat menolong kecuali Allah. Dan agar
terbiasa dengan kemelaratan. Sehingga kita tidak kaget jika ada dalam
keadaan seperti itu. Jika kita selalu hidup dalam kesenangan, kemewahan,
keindahan, kemudahan, maka kita akan kaget apabila kita tiba-tiba
berada pada kemelaratan. Hidup kita akan menjadi sangat susah, karena
sudah dimanjakan oleh keindahan, sedangkan hidup itu berputar. Kadang di
atas, terkadang di bawah, Jadinya tidak pasti.
Kata “jauh”
bukan berarti tidak peduli dengan orang lain yang ada di sekitar. Kita
harus peduli. Ketika ada yang sakit, maka kita harus jenguk. Ketika ada
yang meninggal, maka kita harus menyalatkannya. Ketika ada tetangga yang
belum makan, kita beri makan. Dan kebaikan-kebaikan lain yang harus
kita berikan pada orang-orang di sekitar kita. Makna “jauh”
di atas adalah tidak mudah meminta bantuan orang lain. Sederhananya,
menyelesaikan masalah sendiri. Meskipun kita tidak bisa menyelesaikan
semua masalah itu sendiri, tetapi kita harus berusaha menyelesaikannya.
Sekiranya tidak mampu, barulah kita meminta bantuan orang lain.
Hidup
bersama keluarga itu mengasyikkan. Ramai, semuanya ada, semuanya
tinggal pakai, ada kasih sayang, santai, dan kesenangan lainnya. Tapi
ingat, hal itu akan menjadi orang yang manja. Orang yang menerima
pelayanan keluarga. Sedangkan hidup sendirian itu melarat, sepi, harus
berusaha sendiri, tidak ada yang menolong. Tetapi, hal itu akan
menjadikan kita menjadi pribadi yang mandiri. Melakukan semua sendiri.
Tidak perlu bantuan orang lain.
Intinya, kita harus hidup bersama
keluarga. Agar kita merasakan cinta, kasih sayang, kebersamaan,
pendidikan. Tapi kita perlu hidup sendiri untuk beberapa saat. Agar kita
tahu makna perjuangan, pengorban, dan kemandirian. Dan kita tidak akan
kaget ketika kita tiba-tiba berada pada posisi kemelaratan. Dengan
begitu, kita bisa hidup pada dua posisi. Yakni posisi baik dan posisi
yang buruk dan mencekam.
Hidup sendirian, memang terasa
membosankan dan terasa hambar. Tapi jika kita lakukan, kita akan tahu
bagaimana makna kehidupan. Kita tahu rasanya kemelaratan. Kita tahu
kesusahan. Kita tahu rasanya kesepian. Sebab, semua itulah yang membuat
kita tahu makna, nikmat, enak, nyaman, dan indahnya kebersamaan itu.
Makanya,
ketika kita terpisah dengan keluarga, jangan pernah merasa bingung,
galau, sedih. Tapi gunakanlah kesempatan itu sebagai pembelajaran bagi
kita. Agar kita menjadi orang mandiri dan tidak manja.
